Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 merupakan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah modern Indonesia yang menjadi katalis utama gerakan reformasi. Peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti oleh aparat keamanan ini tidak hanya menewaskan empat mahasiswa—Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie—tetapi juga memicu gelombang protes massal yang akhirnya mengakhiri pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto setelah 32 tahun berkuasa. Tragedi ini terjadi dalam konteks krisis ekonomi Asia 1997-1998 yang melanda Indonesia, menyebabkan inflasi tinggi, pengangguran massal, dan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah.
Kronologi peristiwa dimulai dengan demonstrasi damai mahasiswa Trisakti yang menuntut reformasi politik dan ekonomi. Ribuan mahasiswa berkumpul di kampus mereka di Grogol, Jakarta Barat, dengan tuntutan utama pengunduran diri Soeharto, penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), dan penurunan harga kebutuhan pokok. Aksi ini merupakan bagian dari gelombang demonstrasi mahasiswa yang telah berlangsung sejak awal 1998 di berbagai kota besar Indonesia. Namun, situasi berubah drastis ketika aparat keamanan mulai membubarkan massa dengan cara-cara keras sekitar pukul 17.00 WIB.
Fakta-fakta kontroversial seputar Tragedi Trisakti masih menjadi bahan perdebatan hingga kini. Laporan resmi menyebutkan bahwa penembakan terjadi ketika mahasiswa mencoba keluar kampus untuk bergabung dengan demonstran lain, sementara saksi mata dan investigasi independen menyatakan penembakan terjadi secara sistematis terhadap mahasiswa yang tidak bersenjata. Yang tak kalah penting adalah konteks sejarah panjang perlawanan rakyat Indonesia, seperti perlawanan di Blitar melawan penjajah, yang menunjukkan tradisi perjuangan mahasiswa dan masyarakat sipil.
Pengaruh Tragedi Trisakti terhadap gerakan reformasi sangat signifikan. Empat hari setelah tragedi, kerusuhan besar melanda Jakarta dan beberapa kota lain pada 13-15 Mei 1998, yang dikenal sebagai Kerusuhan Mei 1998. Peristiwa ini menciptakan tekanan domestik dan internasional yang tak terbendung terhadap pemerintahan Soeharto. Mahasiswa dari berbagai universitas kemudian menduduki Gedung DPR/MPR, dan pada 21 Mei 1998, Soeharto akhirnya mengundurkan diri, menandai berakhirnya Orde Baru dan dimulainya era Reformasi.
Dalam perspektif sejarah yang lebih luas, Tragedi Trisakti memiliki paralel dengan peristiwa-peristiwa perlawanan lain dalam sejarah Indonesia. Misalnya, Pertempuran Bojong Kokosan pada masa revolusi kemerdekaan menunjukkan semangat perjuangan serupa meski dalam konteks yang berbeda. Begitu pula dengan peristiwa-peristiwa seperti Pertempuran 19 November dan perlawanan di Rengat Indragiri Hulu yang menjadi bagian dari narasi panjang perjuangan rakyat Indonesia untuk keadilan dan kedaulatan.
Warisan Tragedi Trisakti terus hidup dalam memori kolektif bangsa. Setiap tahun, peringatan tragedi ini diadakan untuk mengenang para pahlawan reformasi dan mengingatkan pentingnya menjaga demokrasi. Monumen dan museum didirikan untuk mengabadikan peristiwa ini, sementara tuntutan untuk mengungkap kebenaran seputar tragedi tetap bergulir. Bagi generasi muda, memahami Tragedi Trisakti bukan hanya tentang mengingat sejarah kelam, tetapi juga tentang mengambil pelajaran berharga tentang pentingnya kontrol sipil atas militer, kebebasan berekspresi, dan mekanisme penyelesaian konflik secara damai.
Dari sudut pandang politik, Tragedi Trisakti mengubah lanskap politik Indonesia secara fundamental. Pasca-reformasi, Indonesia mengalami perubahan konstitusi besar-besaran, desentralisasi kekuasaan, pemilihan langsung, dan kebebasan pers yang lebih luas. Namun, tantangan tetap ada, termasuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu secara komprehensif. Dalam konteks ini, memori tentang Tragedi Trisakti berfungsi sebagai pengingat akan harga mahal yang dibayar untuk demokrasi dan pentingnya terus memperjuangkan nilai-nilai reformasi.
Perbandingan dengan periode sejarah lain juga relevan. Misalnya, masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948-1949 menunjukkan ketahanan bangsa dalam mempertahankan kedaulatan di tengah krisis, sementara Agresi Militer Belanda I (1947) mengingatkan pada intervensi asing dalam urusan domestik. Periode-periode ini, bersama dengan Tragedi Trisakti, membentuk mosaik kompleks sejarah Indonesia yang penuh dengan perjuangan, pengorbanan, dan pencarian identitas sebagai bangsa merdeka.
Secara keseluruhan, Tragedi Trisakti 1998 bukan sekadar peristiwa sejarah yang terisolasi, tetapi titik balik yang menghubungkan masa lalu, present, dan masa depan Indonesia. Pelajarannya tetap relevan dalam konteks kontemporer, di mana demokrasi menghadapi tantangan baru baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan memahami secara mendalam kronologi, fakta, dan pengaruh tragedi ini, kita dapat lebih menghargai perjalanan bangsa menuju masyarakat yang lebih adil dan demokratis, serta tetap waspada terhadap potensi pengulangan kekerasan negara terhadap warganya sendiri.